Libya setelah Gaddafi : sebuah contoh berbahaya?
Kematian diktator Libya ini merupakan sesuatu yang patut dirayakan, akan tetapi campur tangan asing dapat menjadi sebuah masalah jangka panjang dan contoh bagi bangsa-bangsa lain.
Kejatuhan dan kematian figur yang sudah memimpin Libya selama 42 tahun ini secara alamiah menghasilkan perayaan di seluruh Libya, khusunya di kota-kota besar. Walapun kematiannya yang berdarah dan penuh dendam dapat menjadi sebuah peringatan bahwa situasi akan berbahaya dan penuh tantangan dan dapat mengagalkan proses demokratisasi di Libya.
JIka kita mengingatkan quote dari WH Auden “orang yang memperlakukan orang lain layaknya setan, akan diperlakukan sebagai setan”, maka kata-kata ini menjadi sesuatu yang sangat menggambarkan hubungan Gaddafi dengan kaum oposisi. Saat sang pemimpin menyebut lawan-lawannya sebagai tikus dan berjanji untuk menangkap setiap orang oposisi hingga ke rumah, maka pengepungan Gaddafi di Sirte sudah dipastikan akan menjadi sebuah drama yang penuh dengan kekerasan dan pertumpahan darah.
Saat ini, maka kita dapat melihat adanya kekosongan kepemimpinan di Libya yang tampaknya tidak akan diisi secara cepan. Sulit untuk menentukan apakah seluruh pihak di Libya akan bersatu untuk menentukan figure politik, khususnya setelah meninggalnya Gaddafi yang menjadi musuh semua pihak. Kebanyakan pertempuran-pertempuran terakhir ini diatur oleh pemimpin militant seperti Abdel Hakim Belhadj yang memimpin penyerangan di Tripoli atau Fwazi Bukatef yang memimpin penyerangan di tempat-tempat dimana loyalist Gaddafi bertempur dan berkumpul untuk mempertahankan pemimpin mereka.
Komandan-komandan tersebut biasanya tidak memegang kendali atas situasi penduduk sipil, sehingga memberikan ancaman pada koherensi situasi Libya. Dewan Transisi Nasional sudah terlihat cukup sukses dalam memegang kredibilitas international terhadap pasukan Anti Gaddafi. Dan selanjutnya kita juga akan melihat apakah Dewan Transisi Nasional juga dapat memegang keinginan kolektif dari rakyat Libya untuk memiliki pemerintahan yang demokratis.
Skenario Terburuk
Pengamat-pengamat yang pesimis telah berspekulasi bahwa masa depan Libya akan diwarnai oleh kekacauan, seperti yang terjadi pada Somalia setelah penggulingan Mohamed Siad Barre, diktator yang digulingan kada tahun 1991.. Akan tetapi, akan lebih bijak jika kita melihat penggulingan Gaddafi sebagai sebuah kesempatan bagi oposisi untuk menciptakan Negara demokratis tanpa adanya tantangan dari pendukung Gaddafi. Berbeda dengan Mesir yang masih dalam proses transisi untuk melengserkan seluruh pendukung orde Mubarak, maka Libya memiliki kesempatan untuk melakukan revolusi secara utuh yang meliputi politik, ekonomi dan aspek kehidupan-kehidupan lain. Serta, fakta bahwa Gaddafi tidak “meninggalkan” Libya dengan infrastruktur institusi yang lengkap dan jelas ternyata member keuntungan bagi Dewan Transisi Nasional dalam membangun Libya yang baru.
Keuntungan-keuntungan lain yang jelas dimiliki Libya adalah kekayaan minyak dan populasi yang kecil. Sedangan ujian yang akan dihadapi Libya dalam beberapa bulan ke depan adalah bagaimana pemerintahan yang baru mengatur ekonomi negara khususnya dalam menangani kekayaan nasional yang banyak dijadikan sasaran oleh korporasi-korporasi international. Pastinya, NATO yang turut serta dalam penggulingan Gaddafi akan meminta lebih dari sekedar ucapan terima kasih. Dan tugas dari pemerintahan Libya yang baru untuk mempertahankan kedaulatan Libya dari campur tangan asing yang ingin ikut menguasai kekayaan Libya.


