Libya setelah Gaddafi : sebuah contoh berbahaya?


Kematian diktator Libya ini merupakan sesuatu yang patut dirayakan, akan tetapi campur tangan asing dapat menjadi sebuah masalah jangka panjang dan contoh bagi bangsa-bangsa lain.

Kejatuhan dan kematian figur yang sudah memimpin Libya selama 42 tahun ini secara alamiah menghasilkan perayaan di seluruh Libya, khusunya di kota-kota besar. Walapun kematiannya yang berdarah dan penuh dendam dapat menjadi sebuah peringatan bahwa situasi akan berbahaya dan penuh tantangan dan dapat mengagalkan proses demokratisasi di Libya.

JIka kita mengingatkan quote dari WH Auden “orang yang memperlakukan orang lain layaknya setan, akan diperlakukan sebagai setan”, maka kata-kata ini menjadi sesuatu yang sangat menggambarkan hubungan Gaddafi dengan kaum oposisi. Saat sang pemimpin menyebut lawan-lawannya sebagai tikus dan berjanji untuk menangkap setiap orang oposisi hingga ke rumah, maka pengepungan Gaddafi di Sirte sudah dipastikan akan menjadi sebuah drama yang penuh dengan kekerasan dan pertumpahan darah.

Saat ini, maka kita dapat melihat adanya kekosongan kepemimpinan di Libya yang tampaknya tidak akan diisi secara cepan. Sulit untuk menentukan apakah seluruh pihak di Libya akan bersatu untuk menentukan figure politik, khususnya setelah meninggalnya Gaddafi yang menjadi musuh semua pihak. Kebanyakan pertempuran-pertempuran terakhir ini diatur oleh pemimpin militant seperti Abdel Hakim Belhadj yang memimpin penyerangan di Tripoli atau Fwazi Bukatef yang memimpin penyerangan di tempat-tempat dimana loyalist Gaddafi bertempur dan berkumpul untuk mempertahankan pemimpin mereka.
Komandan-komandan tersebut biasanya tidak memegang kendali atas situasi penduduk sipil, sehingga memberikan ancaman pada koherensi situasi Libya. Dewan Transisi Nasional sudah terlihat cukup sukses dalam memegang kredibilitas international terhadap pasukan Anti Gaddafi. Dan selanjutnya kita juga akan melihat apakah Dewan Transisi Nasional juga dapat memegang keinginan kolektif dari rakyat Libya untuk memiliki pemerintahan yang demokratis.

Skenario Terburuk
Pengamat-pengamat yang pesimis telah berspekulasi bahwa masa depan Libya akan diwarnai oleh kekacauan, seperti yang terjadi pada Somalia setelah penggulingan Mohamed Siad Barre, diktator yang digulingan kada tahun 1991.. Akan tetapi, akan lebih bijak jika kita melihat penggulingan Gaddafi sebagai sebuah kesempatan bagi oposisi untuk menciptakan Negara demokratis tanpa adanya tantangan dari pendukung Gaddafi. Berbeda dengan Mesir yang masih dalam proses transisi untuk melengserkan seluruh pendukung orde Mubarak, maka Libya memiliki kesempatan untuk melakukan revolusi secara utuh yang meliputi politik, ekonomi dan aspek kehidupan-kehidupan lain. Serta, fakta bahwa Gaddafi tidak “meninggalkan” Libya dengan infrastruktur institusi yang lengkap dan jelas ternyata member keuntungan bagi Dewan Transisi Nasional dalam membangun Libya yang baru.

Keuntungan-keuntungan lain yang jelas dimiliki Libya adalah kekayaan minyak dan populasi yang kecil. Sedangan ujian yang akan dihadapi Libya dalam beberapa bulan ke depan adalah bagaimana pemerintahan yang baru mengatur ekonomi negara khususnya dalam menangani kekayaan nasional yang banyak dijadikan sasaran oleh korporasi-korporasi international. Pastinya, NATO yang turut serta dalam penggulingan Gaddafi akan meminta lebih dari sekedar ucapan terima kasih. Dan tugas dari pemerintahan Libya yang baru untuk mempertahankan kedaulatan Libya dari campur tangan asing yang ingin ikut menguasai kekayaan Libya.

Catatan Kecil dari PIMNAS


Pernah mendengar mengenai Pimnas? Atau lebih jelasnya Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional? Bagi beberapa orang mungkin kata-kata ini mungkin tidak lebih keren dibandingkan dengan berbagai macam training dan seminar International yang ada di luar sana. Tapi percayakah anda , jika PIMNAS adalah ajang penyajian karya pikir kreatif Mahasiswa yang terbesar di Indonesia. Dengan jumlah proposal karya yang awalnya diajukan mencapai 35.000 buah dan hingga terpilih 350 karya yang di”undang” untuk mengikuti PIMNAS dan dengan penyelanggaraan yang sudah ke-23 kalinya. Maka tak heran jika ajang ini disebut sebagai “Jambore mahasiswa seluruh Indonesia” yang terbesar dan paling bergengsi.

Sejauh apa ITB sudah melangkah? Jika dilihat dari gegap gempitanya tampaknya Civitas Akademika ITB belum banyak yang mengetahui Pimnas, apalagi langkah-langkah untuk mengikuti PIMNAS. Dan dengan kenyataan seperti ini, hasil yang didapat masih jauh dibawah pernyataan bahwa ITB adalah “Institut Terbaik Bangsa”, pada PIMNAS 2011 yang diadakan di Makassar ITB menempati peringkat 9 dengan 3 emas, masih tertinggal dibandingkan dengan juara umum UGM dengan 8 emas dan ataupun saudara di Surabaya (ITS) yang berada di posisi ke 4.

Saya sendiri bukan pribadi yang sejak awal mengetahui adanya PIMNAS. Baru mengetahui PIMNAS/PKM saat tingkat tiga dan mengikuti PIMNAS karena ajakan teman, bagi saya “road to pimnas” dari Februari kemarin bukanlah sebuah perjalanan yang mudah, mulai dari cerita mitra bangkrut hingga harus mencari mitra baru, menemukan bengkel untuk membuat alat , proses desain alat yang ternyata panjang dan membingungkan, dana yang kurang sampai kesibukan masing-masing anggota (yang membuat kami baru foto lengkap saat di Makassar  ). Tapi hebatnya tim ini berhasil membuat sebuah alat bernama ACEF (Automatic Chicken Feeder) dan alat ini membawa kami mewakili ITB untuk mengikuti PIMNAS di Makassar.

Persiapan menuju PIMNAS tidak mudah apalagi dengan target setinggi-tingginya. Usaha yang dibuat tidak tanggung-tanggung dimulai dari membuat slide presentasi yang komprehensif, latihan presentasi bekali-kali, mengganti-ganti desain poster sampai kembali ke mitra di Desa Sarinagen, yang harus berkendara beberapa jam dari Bandung. Nah bagaimana hasilnya? Hasilnya adalah Juara Favorit Pilihan Juri di Kategori PKM-T. Ngenes? Tidak. Bahagia luar biasa? Hmm….. Satu kata yang mendeskripsikan perasaan saya adalah Lega dan Bersyukur, kenapa? Karena walaupun tidak jadi yang terbaik tapi tetap mendapat apresiasi dan sebuah pengalaman yang luar biasa.

Selama di Makassar buat saya hal paling berkesan adalah bagaimana saya dapat melihat ratusan ide yang berbeda-beda dari Mahasiswa dari seluruh Indonesia. Ada yang membuat pengukur baju otomatis, konsep “Jakarta Mangrove City” hingga tempat tidur pasien yang dapat berpindah dengan otomatis. Dan mahasiswa ITB ternyata tidak kalah, bisa dilihat dari Konsep Dokumentasi Karya yang diimplementasikan di Campus Channel bisa membawa pulang emas(poster)-perak(presentasi), usaha Jaket Transformasi yang meraih medali emas(poster)-perak(presentasi) dan gagasan tentang Penanggulangan Bencana Kelautan berhasil mendapat medali perunggu (presetasi), begitu pula dengan rentetan medali poster yang diraih oleh teman-teman yang lain. Kalau begitu apa yang membuat ITB kurang berhasil dan menempati posisi 9 di klasemen terakhir?

Jika saya membandingkan dengan Universitas-universitas lain, maka universitas yang berhasil mencapai posisi teratas telah mempersiapkan diri dengan baik dimulai dari pengajuan proposal awal yang mencapai ribuan (ITB mengajukan 101 proposal), pelatihan yang terpusat dan berulang-ulang (ITB melakukan 3 pelatihan terpusat) dan yang paling utama adalah Tujuan Menjadi Juara Umum bukan lah sesuatu yang baru dicanangkan saat mendekati PIMNAS. Menjadi juara umum PIMNAS adalah sesuatu yang dicanangkan satu tahun sebelum pelaksanaan dan dari sana terciptalah budaya juara yang mereka pegang dari awal pelaksanaan hingga PIMNAS berakhir.

Dengan melihat ini apakah ITB memiliki peluang untuk menjadi Juara Umum PIMNAS? Jawabannya sederhana : peluang tersebut ada. Tapi pembenahan dan persiapan yang lebih matang harus dilakukan oleh komponen-komponen yang ada di dalamnya, mulai dari sosialisasi yang lebih luas, pelatihan mengenai presentasi dan poster yang lebih komprehensif, bimbingan yang lebih terstruktur dan yang paling penting adalah semangat dan mental juara harus dipegang seluruh peserta sejak awal. Tidak mudah menjadi seorang Juara, bahkan bukan tidak mungkin posisi teratas baru diraih 3-4 tahun lagi tapi seorang Juara pun harus merasakan tertundanya keberhasilan dahulu bukan?

Kompetisi dan klasemen akhir di PIMNAS hanyalah sebuah catatan kecil dari pengalaman yang akan didapat dari PIMNAS. Tapi yang utama adalah pengalaman dan usaha yang dilakukan sehingga sebuah Tim dapat mencapai pimnas, jika menjadi juara maka hal itu adalah yang harus disikapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab yang besar akan tetapi jika tidak menjadi juara maka saya yakin bahwa teman-teman telah mendapat pengalaman dan kesempatan yang tidak dapat digantikan selama proses menuju PIMNAS.

Semoga ITB menjadi juara umum PIMNAS XXV 2012.

Indonesia vs US Education System


*this post was originally written by Marsha Sugana for Jakarta Post, now it is rewritten (a.k.a copy paste) from writer’s point of view for this blog, enjoy!

As a student who has attended three different high schools with European, US and Indonesian curriculums, I have concluded that I have benefited most from the US curriculum.

While US President Barack Obama and many Americans are unsatisfied with the quality of the US education system, I shall give a further explanation about the distinctions between American and Indonesian high school curriculums and defend why I believe the US one is best.

First of all, the US curriculum awards high school students autonomy to decide their courses of study. While Indonesians do have the option to focus during their last two years of high school on natural sciences or social sciences, depending on their desired future major in the undergraduate level, Americans have the option to design their own course schedules every year, based on their interests and needs.

This is permissible, as long as they fulfill certain graduation requirements that usually comprise four years of English, three years of social and natural sciences, two years of a foreign language and three years of mathematics (high schools in the US go for four years not three). In addition, US high school students have the option to select the level of difficulty of the courses they take, depending whether their school offers Honors or Advanced Level courses.

Despite these advantages, however, the academic offerings of the US curriculum do not necessarily mean that it is the ideal education system for Indonesian high school students today. The current Indonesian curriculum is designed to suit the needs of Indonesian high school students. Similar to most countries around the world, Indonesian students have to apply specifically for the major and undergraduate institutions that they are interested in pursuing, by taking examinations.

A highly focused high school curriculum, therefore, is ideal in helping students to score well in their examinations. In the US, however, students do not have to declare their majors until their second year of college. For example, as a first-year undergraduate student at Emory University in Atlanta, Georgia, I still have one year to decide whether I would be double majoring in Economics and Political Science or just one of them (with the intention of going to Law School).

To be admitted, high school students need to meet the academic standards of the American institution they wish to attend by showing their academic transcript, standard test scores, teacher recommendations, and essays without having to commit to a specific major.

The best curriculum certainly depends upon the preferences of students themselves. The Indonesian curriculum is highly focused on specific areas, while the US curriculum is more broad and general. Students who know for sure what their passions and interests are may prefer the Indonesian system. It would be of beneficial to the Indonesian education system as a whole to change the current curriculum so it gives students more options to pursue their passions and interests.

Many young students are still indecisive about what types of careers or subjects they want to spend their lives focusing on, and giving them the power to experiment in different subject areas assists them in finding the right path.

Before I moved to the US for high school four years ago, for example, I was certain I wanted to study architecture. After taking a required class in the social sciences at the US high school I attended, however, I decided that law, politics and economics was a more ideal path for me. Most importantly, however, the curriculum of the US education system encourages students to take courses in a variety of subjects. This gives them a wide range of knowledge in subjects they would not otherwise concentrate on.

I am aware of the difficulty of changing the current educational system, especially with the lack of funding provided by Indonesian the government to even support our entire population with public education. The priority of the Indonesian government currently shall remain to increase the nation’s overall literacy rate and to enable youths to at least graduate high school.

Perhaps in the future, however, it would be to our nation’s advantage to improve the quality of our education system by providing a broader and interest-based curriculum to assist our future leaders. While specialization is crucial, the more knowledgeable we are in various subjects, the more competitive we will be in the global market.

I find that the broad-based curriculum has helped me understand different subject areas and expanded my academic interests. I hope my peers in Indonesia can experience these advantages to improve the overall quality of our nation’s human capital.

The writer is a first-year undergraduate student at Emory University in Atlanta, Georgia.

How to Make A Gasoline?


Crude oil is one of the main source of energy we use every day. Before gasoline – mostly gasoline and heating oil – reach our homes or cars, crude oil goes through a complicated process and travels long distances. Let’s follow the process from start to finish.

1. Oil Well – Crude oil is discovered following lengthy scientific studies to determine the possible presence of underground deposits of petroleum (oil and related liquids). Contrary to popular belief, oil is trapped in the tiny pores of underground rock – not contained in subterranean pools. After studies determine the potential presence of an oil-bearing formation, an exploratory well is drilled. It’s not unusual for the well to turn out to be unsuccessful – a “dry hole.” If resources are discovered in commercial quantities, a production well is installed. The oil — driven by the natural gas, which is often under high pressure — flows to the surface. Over time, the pressure often decreases, requiring the installation of a pump on the well. Wells can be pumped from the surface by the familiar rising and falling “horse head” pump jacks or by long slender submersible pumps that operate deep inside the well bore. Water, steam and natural gas are often injected into older fields in order to increase the amount of oil produced.

2. Crude Oil Tanker – Crude oil which is going to be refined not in the producer country. Most often it is transported by large tankers and delivered to docks near refinery installations. In addition, some gasoline is manufactured in offshore refineries and shipped as a finished petroleum product.

3. Pipeline and Pumping Station – Crude oil destined to become gasoline most often is moved to refineries by pipeline, although tanker trucks are often used to pick up the oil produced in smaller, scattered fields. Pumping stations keep the crude oil moving. They are spaced from 20 to 200 miles along the route, depending on the pipeline’s pressure and the terrain through which it is running.

4. Refinery – Crude oil is transformed into a variety of petroleum products inside a refinery. Often these are huge complexes in which the crude oil undergoes several different processes before emerging as a final product ready to ship to consumers. Depending upon the markets they serve and the type of crude oil they are processing, some refineries may emphasize the production of gasoline, while others may focus on making heating oil or other petroleum products. However, there are limits to how much gasoline “yield” can be obtained from a barrel of crude. In general, yields vary between 35 and 50 percent.

5. Processing – The basic refining processes are separation, conversion and treatment.
Separation is most commonly accomplished by heating the oil in tall distillation towers. Vapors form as the oil is heated, and at various levels in the tower, the vapors condense and are drawn off for further processing. Gasoline vapors tend to be the lightest and are drawn off at the top. Heating oil and diesel are toward the middle, while heavy fuel oil and asphalt-like materials condense at the bottom.

Following distillation, the molecular structure of the separated fractions may undergo conversion in reformers, catalytic cracking units, alkylation units and other refinery equipment. Here heat, pressure and chemical catalysts break heavier oil elements into lighter ones (such as gasoline) or combine several light molecules into a few heavy ones for fuels such as high-octane aviation gas.

Finally, many petroleum products undergo treatment processes of some kind in order to remove chemical impurities. Sulfur is a common impurity found in most crude oil, which with advanced treatment methods, can be reduced to near-zero levels in gasoline and distillates. Removing sulfur significantly decreases the amount of polluting sulfur dioxide that is formed when heating oil, diesel fuel and gasoline are consumed. Since 1995, air emission regulations in several major metropolitan areas have made it necessary for refiners to adjust gasoline components in order to produce “reformulated” gasoline (RFG). This fuel, which contains less benzene and more oxygenate and has a lower evaporation rate than normal gasoline, is intended to help reduce air pollution during the hot summer months.

6. Transportation to Markets – Pipelines are the most common method of moving finished petroleum products from the refinery to the consumer. More than 200,000 miles of petroleum pipelines, most of it underground, distribute crude oil and products to all regions of the country. Pipeline transportation is relatively slow – products move at about 3 to 8 miles per hour — but huge amounts of product can be delivered in this manner at low operating cost and with a high degree of reliability.

7. Local Terminal – At the local terminal, gasoline distributors pick up their product, which has been delivered by pipeline or occasionally by barge, railroad car or tanker truck. Most often the terminal consists of a collection of storage tanks and a loading rack, where the distributors’ trucks line up to be filled.

8. Service Station/Convenience Store – Trucks from the local terminal deliver gasoline into underground tanks at the nation’s 168,000 service stations, convenience stores and other retail outlets. Pumps on the service islands of these facilities remove the gasoline from storage to place it in the gas tanks of the customers’ vehicles. More than 80 percent of gasoline outlets are now convenience stores, offering fuel as well as a variety of everyday products. Unleaded regular makes up two-thirds of all gasoline sale

*source : conocophillips

Rwanda(?)


17 tahun lalu, sebuah negara di Afrika-Rwanda-sedang mengalami salah satu gejolak dan tragedi kemanusiaan terbesar paska Perang Dunia 2. Sekitar 800.000 orang Tutsi dan Hutu berpandangan moderat, dibunuh secara masal oleh Hutu berpandangan ekstrim. Tragedi ini selanjutnya dikategorikan sebagai Genosida, dan menjadi salah satu perdebatan International hingga saat ini. Dan bagaimana keadaan Rwanda pasca genosida? Walaupun telah bangkit dari Genosida dan menunjukkan progress mengesankan dalam beberapa tahun terakhir, toh Rwanda masih dikategorikan sebagai salah satu negara miskin di dunia.

Dengan melihat kembali ke 1994, maka akan muncul banyak pertanyaan mengenai penyebab tragedi kemanusiaan tersebut.

Apakah tragedi ini dimulai dari kebencian? Jika iya, kenapa manusia yang seharusnya dilahirkan dengan empati dapat melakukan hal ini

Apakah perisitiwa ini dikarenakan Hutu yang dibutakan oleh ketakutan? Saat itu, terdapat paradigma bahwa Tutsi akan memperbudak Hutu jika mereka berkuasa, Akan tetapi haruskah mereka “menghabisi” seluruh Tutsi untuk mencegah perbudakan ini?

Jika perisitiwa ini disebabkan oleh ketakutan dan kebencian, kenapa tidak ada satu orangpun yang berkata “stop

Cukup menggelikan untuk melihat bahwa banyak orang harus terbunuh hanya karena perbedaan. Ketidakpedulian dan ketidakhormatan atas perbedaan memang sesuatu yang harus dibayar mahal.

*diartikan secara bebas dari Artikel yang ditulis Daniel Chrisendo pada imo.jakartapost.com

The Time 100 Edition : Peter Vesterbacka


‘I have three stars on every level. It’s sort of disgusting how much I play the game. It’s not, Oh, what level am I on? It’s, Do I need therapy to break myself from playing Angry Birds?’

— Anna Kendrick, Academy Award–nominated actress, on her addiction to the game, developed by Vesterbacka and his company, Rovio. It has been downloaded 100 million times around the world

The Time 100 Edition : Wael Ghonim


Spokesman For A Revolution
by Mohammad El Baradai

Wael Ghonim embodies the youth who constitute the majority of Egyptian society — a young man who excelled and became a Google executive but, as with many of his generation, remained apolitical due to loss of hope that things could change in a society permeated for decades with a culture of fear.

Over the past few years, Wael, 30, began working outside the box to make his peers understand that only their unstoppable people power could effect real change. He quickly grasped that social media, notably Facebook, were emerging as the most powerful communication tools to mobilize and develop ideas.

By emphasizing that the regime would listen only when citizens exercised their right of peaceful demonstration and civil disobedience, Wael helped initiate a call for a peaceful revolution.

The response was miraculous: a movement that started with thousands on Jan. 25 ended with 12 million Egyptians removing Hosni Mubarak and his regime. What Wael and the young Egyptians did spread like wildfire across the Arab world.
Thank you, Wael. Thank you to the Egyptian youth.

El Baradei, an Egyptian politician, is a former director general of the International Atomic Energy Agency

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir : Tetap Sebuah Pilihan


Masih cukup segar dalam ingatan kita bahwa pada tanggal 11 Maret 2011, sebuah gempa dengan magnitudo 9.0 skala richter mengguncang pesisir timur Jepang. Gempa dengan skala yang luar biasa besar ini berpusat cukup rendah dan memicu terjadinya tsunami, dan menghancurkan segala yang dilewatinya. Salah satu bangunan penting yang berada di jalur Tsunami tersebut adalah empat buah PLTN Fukushima yang sudah beroperasi cukup baik selama bertahun tahun dan telah menjadi salah satu pembangkit utama di Negeri Sakura. Dirancang untuk bertahan menghadapi bencana sekaliber tsunami dan gempa, PLTN Fukushima ternyata tidak sepenuhnya sanggup bertahan menghadapi bencana sebesar itu. Hal ini disebabkan PLTN Fukushima hanya dirancang untuk bertahan menghadapi gempa dalam skala 8,9 Skala Richter, bukan untuk menhadapi gempa dangkal apa lagi untuk tsunami yang “turut serta” menyerang Jepang beberapa jam setelahya. Tragedi ini membuat bencana Fukushima dianggap merupakan salah satu bencana Nuklir terbesar pasca Perang Dunia II dan disandingkan dengan Bencana Chernobyl (Rusia) dan Three Mile Island (USA). Sehingga, memicu perdebatan mengenai standar keamanan yang seharusnya dimiliki PLTN.

Reaksi yang sangat bervariasi bermunculan, Jepang sebagai sebuah negara yang terkenal dengan kedisiplinan dan ketelitiannya, selama ini telah menjadi model bagi seluruh dunia untuk konstruksi dan manajerial sebuah pembangkit. Ternyata, tidak siap menghadapi tragedi nuklir dengan skala yang sangat besar. Pemimpin negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Jerman dan India langsung menginstruksikan ahli-ahli nuklir di negara masing-masing untuk melakukan evaluasi atas tingkat keamanan nuklirnya di negara masing-masing, sedangkan International Atomic Energy Agency langsung melakukan analisis secara mendalam untuk menyediakan sebuah laporan yang objektif dan komprehensif kepada publik.

Jika kita membandingkan dengan pembangkit-pembangkit lain, harus diakui PLTN memang adalah pembangkit paling kontroversial. Klaim dan pernyataan bahwa PLTN adalah pembangkit yang low cost, hanya memberikan emisi gas kaca yang sedikit serta efisiensi yang tinggi, tidak menjadikan PLTN sebagai sebuah favorit Keamanan dan keselamatan PLTN tetap menjadi diskusi panas bagi para profesional dan politisi. PLTN merupakan bentuk pembangkit paling kompleks dan memiliki sistem pendinginan tercanggih, yang dirancangan untuk menjaga pusat energi tetap dingin walaupun reaktor sedang tidak bekerja. Perkembangan teknologi belakangan juga semakin meningkatkan kemampuan pembangkit khususnya dalam menghadapi berbagai resiko bencana, akan tetapi tetap saja ada yang berkomentar dengan mengatakan : dahulu ada Chernobyl serta Three Mile Island dan sekarang ada Fukushima.

Dengan segala kekhawatiran yang telah dijabarkan di atas, belum ada negara yang memutuskan untuk menutup PLTN-PLTN baik untuk sementara atau secara permanen, tetapi mereka lebih memilih untuk memikirikan dan membuat langkah-langkah jika-sampai-harus menghadapi bencana yang sama seperti Fukushima. Dari sini dapat dilihat bahwa ada banyak hal yang dapat dipelajari dari Fukushima, khususnya dalam peningkatan keamanan dan keselamatan sebuah PLTN. Walaupun pada akhirnya ini akan membawa pada meningkatnya biaya dan semakin lamanya konstruksi sebuah PLTN. Sebagai contoh, di masa depan sebuah PLTN dengan sebuah sistem Auto Shutdown dan sistem pendingin yang tidak tergantung pada distribusi daya tapi pada teknogi fusi termo.

Yang lebih penting dari perkembangan teknologi untuk PLTN, adalah kebutuhan untuk menciptakan kompetensi, karakter dan disiplin untuk menjadikan keamanan sebagai sebuah budaya. Indonesia, yang katanya, akan mulai membangun PLTN di tahun 2014 harus belajar banyak dari Perancis sebagai negara dengan tingkat kecelakaan PLTN terendah, juga dari Jepang yang memiliki bentang alam yang cenderung sama dengan Indonesia. Dengan harga bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas dan batu bara yang semakin mahal, tidak ramah lingkungan dan cenderung berbahaya dalam beberapa aspek, seharusnya nuklir dan sumber energi terbarukan lainnya dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan energi dunia untuk masa depan.

*dari berbagai sumber

Wannabe Billionaire


It is not from the benevolence of the butcher, the brewer or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest -Adam Smith-

The concept that smith advanced in his 1776 book dramatically changed the mainstream perspective on economic growth. Propounding the notion that the pursuit of self interest resulted in better goods and services for all, often at cheaper prices , he established commercial enterprise driven by self-interest as the engine of capitalism. This idea raised the moral standing of wealth accumulation from its previous somewhat questionable status to become an acceptable and worthy pursuit.

Malcolm Gladwell’s 2008 international best seller “Outliers” reveals that 14 of the 75 richest men in history were all born on the US within a nine year span from 1831-1840, including John Rockefeller, Andrew Carnegie and J.P. Morgan. Beneficiaries of the economic transformation that had occurred since Smith published his defining work, they further fueled the capitalist era by creating both the physical infrastructure for the States and the financial infrastructure that is known as Wall Street Today.

The unbridled capitalism of that period was later restrained by two world wars sandwiching a devastating global depression, not to mention the rise of communism . Yet the power of capitalist self interest is too hardy a creature to be corralled for long and following the end of hostilities in 1945 conditions were ripe for a rebirth of wealth generations, fueled by actual births, as 76 million American Children were born between 1945 and 1964 and similar baby booms took place in Canada, Australia and Europe. These baby boomers further advanced the cause of capitalism. They were influenced by the popular culture about them, and can be divided into two groups , those born between 1946 and 1955 and those born after, up to 1964.

The first group, including President Bill Clinton (1946),ex-UK Prime Minister Tony Blair (1953) and Bill Gates (1955) Cut their teeth on the cultural changes of the sixties. Despite the Cuban missile crisis and assassination of JFK, Bobby Kennedy and Martin Luther King, they were an optimistic bunch who wanted to change the world with their protests and social causes. Their music , such as Bob Dylan, Jimi Hendrix and The Beatles , reflected this outlook.

This mood of optimism was generally lacking in the following group though, as they were more cynical and distrustful, hardly surprising given the events of Watergate and U.S. President Richard Nixon’s subsequent resignation. The music of the time was disco leading to punk and new wave. Barack Obama and Indian Billionaire Mukesh Ambani are perhaps atypical of this group, as both had optimis to succeed. Yet for many, there was a sense of Futility that led to the “slacker” generation of the last century, who were characterized as lacking of the optimism and drive to pursue self interest.

This group appears to need what Gladwell sees as necessary Ingredients for Success, what he calls the “10.000 Hours rule”. Even with the necessary talent , Gladwell proposes that one must devote at leat 10.000 Hours of training to truly master anything, whether you are Bill Gates or The Beatles. The question is whether the present generation has taken this message by heart. Whereas the baby boomers and previous generations for the large part responded to the challenges of their day and worked hard to achieve their goals, I fear that this generation has grown up believing in Instant Gratification, without the requisite discipline and hours of work to turn desire into wealth and success. Their music reflects this sentiment, as expressed in the lyrics of “Billionaire”

I wanna be a billionaire so fricking bad
Buy all of the things I never had
Uh, I wanna be on the cover of Forbes magazine
Smiling next to Oprah and the Queen

To be sure, the heroes of this generation are Internet Billionaires like Mark Zuckerberg, who became a billionaire before turning 30, after launching his website Facebook less than a decade ago (although not yet on the cover of Forbes). Zuckerberg did his “10.000 hours” early developing a formidable talent for computer programming well before he arrived at Harvard and launched the Facebook site. In other words, it still takes dedication and hardwork to get on the cover of Forbes Magazine, so if Bruno Mars, Justin Bieber, Jason Mraz or even yourself really do want to become on the cover of Forbes Magazine they may have to work for your suppers a bit longer even in this internet Age.

*this article is originally written by James Kallman for Forbes Magazine , now rewritten by me (re : Copy paste) for the purpose of this blog

Pintar atau Terkenal


Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis blogger pada IMO Jakarta Post berjudul “Smart or Popular”. Pada artikel itu, penulis-yang bernama Daniel Chrisendo-mencoba untuk melakukan survey kecil-kecilan dengan bertanya pada teman-temannya untuk memilih antara menjadi pintar (smart) tapi tidak terkenal (popular) atau terkenal tapi tidak pintar. Pertanyaan ini bukanlah sebuah pertanyaan sulit tapi cukup menggelitik bagi sebagian orang, karena mereka (termasuk saya) akan mengernyitkan dahi sebelum menentukan pilihan untuk pertanyaan ini.

Daniel kemudian menemukan ada tiga tipe pemilih untuk pertanyaan di atas, yang pertama adalah orang yang memilih untuk pintar. yang kedua yang memilih terkenal dan yang terakhir adalah yang memilih kedua pilhan tersebut. Dari tulisan yang dibuat oleh Daniel dapat dilihat bahwa orang yang memilih untuk menjadi pintar, memiliki beberapa alasan yang klasik dan mungkin cenderung agak sempit. Hal pertama yang membuat saya berpikir seperti ini adalah orang yang memilih untuk menjadi pintar berpendapat bahwa pintar memiliki makna yang lebih “mendalam” dibandingkan menjadi terkenal. Apa maksud mendalam di sini?-dengan sayangnya hal ini tidak didefinisikan dengan lebih jelas di tulisan Daniel-. Selanjutnya, saya juga menangkap pesan bahwa orang yang memilih menjadi pintar, juga cenderung tidak terlalu berpikir lebih mendalam mengenai arti kata “terkenal”. Walaupun begitu pada akhirnya para pemilih pintar tersebut juga menggunakan dan memaksimalkan kepintaran tersebut untuk ” lebih dikenal orang “. Jadi kesimpulannya…

Fenomena unik didapat Daniel, saat dia mulai menulis tentang alasan orang memilih untuk menjadi terkenal. Alasan yang diajukan orang-orang yang memilih menjadi terkenal ternyata karena

“The first reason is that popular people not only use their cleverness, but intelligence. They are able to socialize, to govern themselves and others, demonstrated the superiority, sympathy, and use it. These make them popular. Another reason that said was popular that lead to existence needs social intercourse. With exist and interact will increase our knowledge. Then, the last reason is that the cleverness can be easily achieved through learning. However, it is not that easy to be smart”

Membaca pertanyaan di atas, membuat saya mulai bertanya-tanya apa perbedaan dari “cleverness” dan “intelligence“. Selama ini saya berasumsi bahwa cleverness adalah kecerdasan sedangkan intelligence adalah kemampuan intelegensia. Pertanyaan baru kembali muncul apa definisi dari kecerdasan dan intelegensi? Kapankah orang dikatakan memiliki kecerdasan? . Tidak ingin terus bertanya-tanya, saya mulai mencari-cari definisi dari “cleverness” dan “intelligence”. Pencarian ini, sempat membuat saya semakin bingung , karena kebanyakan orang memiliki definisi masing-masing ada yang mengatakan bahwa clever adalah bentuk yang lebih formal dari intelligence, ada juga yang mengatakan bahwa clever berarti kemampuan individu untuk merespon situasi/keadaan dan intelligence adalah kemampuan untuk belajar, memahami dan mengeluarkan pendapat berdasar alasan-alasan yang memiliki. Setelah mencari-mencari lebih jauh saya akhirnya memutuskan untuk sepakat dengan definisi yang kedua, kenapa? Karena saya merasa secara definitif clever dan intelligence bukanlah dua buah kata yang mengandung sinonimitas tapi sebuah kata yang cenderung saling melengkapi dengan perannya masing.

Kembali ke masalah pintar atau terkenal . Ada satu orang teman Daniel yang memilih untuk memberikan jawaban berbeda. Dia (she) memilih untuk menjadi terkenal dan pintar. Jawaban yang pasti dipilih oleh semua orang jika pilihan ini ada, Akan tetapi walau Daniel sudah mengatakan (dan memaksa) bahwa pilihan itu tidak ada, dia tetap memilih pilihan tersebut dan memberikan alasan yang cukup menarik atas pilihannya.

Alasan pertama adalah, bahwa seorang yang bodoh tidak akan cukup pintar untuk mempengaruhi orang lain. Hal ini berarti bahwa bagaimana mungkin seseorang menjadi terkenal jika dia tidak pintar dan juga sebaliknya. Jika tidak ada pilhan untuk menjadi pintar dan terkenal maka dia akan memastikan bahwa pilihan itu tetap ada, karena orang yang pintar tidak hanya memilih dalam kehidupan tapi juga membuat berbagai pilihan dalam kehidupannya. Kemudian, dia menganalogikan bahwa jika ini adalah sebuah ujian dengan pilihan a.Pintar b.Terkenal, maka dia akan memilih untuk mengosongkan lembar jawaban ujian tersebut, karena dia tidak mencari sebuah kertas yang berisi apresiasi atas pilihannya dalam ujian tersebut. Sebuah jawaban yang cukup menarik bukan?

Pada akhirnya, saya harus sepakat dengan kalimat trakhir Daniel bahwa “Smart people will let go the opportunity to get a better chance. Even Bill Gates and Einstein are smart, at once popular, that their cleverness would not be useful if they are not popular, and their popularity will not be useful if they are not smart”

Bagaimana dengan Anda? Enjoy

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.